memunguti aksara berserakan, menjadikannya kata, agar bermakna
22 Aug 09

sepadan

Lontaran rasa nyaris melepaskan kata-kata ini, “Lupakan saja saya, carilah perempuan yang lebih sepadan”.

Tapi suara dalam kepala mencegah saya karena katanya, saya belum tiba pada titik penghabisan. Saya masih layak bertaruh nasib.

Bukan soal kesepadanan. Bukan pula soal air mata yang akan habis terkuras. Tapi tentang sepasang manusia agung yang berjuang mengantarku ke bumi agar bisa tegak setara dengan manusia lain.
Sembah sujudku mama, baktiku bapak!